LUMAJANG — STIT Muhammadiyah Lumajang menggelar Pra-Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (Pra-PKKMB) di Aula STIT Muhammadiyah Lumajang, Rabu (2/9/2026). Kegiatan ini menjadi tahap awal bagi calon mahasiswa baru (camaba) untuk mengenal lingkungan kampus sekaligus mempersiapkan diri mengikuti PKKMB yang dijadwalkan berlangsung pada 7–13 September 2026.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan pengarahan Wakil Ketua I STIT Muhammadiyah Lumajang, Fahmi Al Hadi, S.Akun., M.E.
Dalam arahannya, Fahmi menyampaikan tiga kompetensi utama yang perlu dimiliki dan terus diasah mahasiswa selama menjalani pendidikan, yakni analytical thinking, resilience, serta etika dan value.
Menurutnya, analytical thinking atau kemampuan berpikir analitis menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu menganalisis informasi dan berbagai perubahan secara kritis.
“Analytical thinking berproses mengembangkan kemampuan berpikir analitis terhadap suatu hal. Maka, mari sama-sama berdinamika dan eksplorasi pembelajaran selama empat tahun ke depan,” ujar Fahmi.
Kompetensi berikutnya adalah resilience atau daya tahan dalam menghadapi proses dan tantangan. Mahasiswa didorong untuk membangun kebiasaan disiplin, tepat waktu, antusias, konsisten, dan tidak mudah menyerah selama mengikuti perkuliahan.
Sementara itu, etika dan value menjadi kompetensi yang tidak kalah penting. Di tengah perkembangan AI, mahasiswa tetap membutuhkan nilai, karakter, dan etika agar ilmu serta teknologi yang digunakan dapat memberikan manfaat dan diterapkan secara bertanggung jawab.
Fahmi juga memperkenalkan konsep pengakuan atau konversi kompetensi dalam pembelajaran. Pengalaman mahasiswa di luar kelas, seperti Paskibra, Pramuka, organisasi, kepemimpinan, maupun kewirausahaan, dapat memiliki keterkaitan dengan kompetensi pembelajaran tertentu sesuai ketentuan akademik kampus.
Hal tersebut menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Pengalaman dan aktivitas mahasiswa juga dapat menjadi bagian dari proses pengembangan kompetensi.
“PKKMB bukan sekadar seremonial. Ini kesempatan besar untuk mengenal medan kita selama empat tahun ke depan. Kalau sudah mengenal medan, kita bisa menyusun strategi dan navigasi perjalanan studi,” jelasnya.
Foto Penyampaian Materi Olah Wakil Ketua I Fahmi Al Hadi, S.Akun., M.E.
Selain penguatan kompetensi, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai salah satu ciri khas Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Pengenalan tersebut menjadi bagian dari wawasan mahasiswa terhadap identitas dan lingkungan perguruan tinggi.
Usai pengarahan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi teknis persiapan PKKMB oleh panitia. Panitia berasal dari unsur mahasiswa yang tergabung dalam IMM, BEM, dan mahasiswa STIT Muhammadiyah Lumajang, dengan M. Ovi Firmansyah sebagai ketua panitia.
Materi teknis disampaikan oleh Safira Syahida, meliputi aturan dan tata tertib, larangan dan sanksi, dress code, serta berbagai ketentuan yang perlu diperhatikan peserta selama mengikuti PKKMB.
PKKMB STIT Muhammadiyah Lumajang tahun ini mengusung tema “Mengenal Kampus, Meneguhkan Nilai, Membangun Generasi Berkemajuan” dengan maskot BINTARA, akronim dari Bintang Tarbiyah Rasulah Akademik.
Rangkaian Pra-PKKMB ditutup dengan pembagian kelompok peserta oleh panitia.
Melalui kegiatan tersebut, calon mahasiswa baru diharapkan tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki gambaran mengenai perjalanan pendidikan yang akan ditempuh selama 3,5 hingga 4 tahun.
Potret calon mahasiswa baru STIT Muhammadiyah Lumajang
Pesan utama yang disampaikan kepada camaba adalah pentingnya memiliki pola pikir “setengah isi, setengah kosong”—membawa pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki, tetapi tetap menyediakan ruang untuk menerima ilmu dan wawasan baru.
Dengan semangat tersebut, mahasiswa diharapkan siap belajar, bertumbuh, berproses, dan berkembang bersama STIT Muhammadiyah Lumajang.
Jurnalis Dicky Maulana