LUMAJANG – Program penguatan pembelajaran Al-Qur'an di Rumah Tahfidz Non Asrama, Desa Bagusari, diawali dengan observasi lapangan yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Muhammadiyah Lumajang. Kegiatan yang berlangsung pada pekan pertama pelaksanaan KKN ini bertujuan memetakan kondisi pembelajaran, karakteristik santri, serta kebutuhan pendampingan agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
KKN STIT Muhammadiyah Lumajang berlangsung mulai 20 Juli hingga 30 Agustus 2026. Selama masa observasi, mahasiswa melakukan pengamatan terhadap lingkungan pendidikan, berdialog dengan pengelola Rumah Tahfidz, serta mewawancarai santri untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai proses pembelajaran Al-Qur'an.
Berdasarkan hasil observasi, Rumah Tahfidz Non Asrama memiliki 65 santri yang terbagi ke dalam delapan halaqah. Kegiatan belajar mengaji dilaksanakan setiap pagi setelah salat Subuh dengan bimbingan para ustazah. Mahasiswa mencatat tingginya semangat para pengajar dalam membina santri, meskipun jumlah peserta didik yang cukup banyak membuat kebutuhan akan pendampingan tambahan menjadi semakin penting.
Selain itu, observasi menunjukkan masih terdapat beberapa tantangan dalam proses pembelajaran. Sebagian santri masih memerlukan bimbingan lebih intensif pada aspek tajwid, makharijul huruf, serta penerapan panjang dan pendek bacaan. Kedisiplinan waktu juga menjadi perhatian karena masih ditemukan santri yang datang terlambat sehingga waktu belajar yang relatif singkat belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
"Dari hasil observasi minggu pertama, kami melihat bahwa sebagian santri masih memerlukan pendampingan lebih intensif dalam tajwid dan panjang pendek bacaan. Kami juga menemukan perlunya penguatan kedisiplinan agar waktu belajar dapat dimanfaatkan secara lebih efektif," ujar salah satu mahasiswa KKN.
Media pembelajaran yang digunakan masih sederhana, seperti buku Iqra', Al-Qur'an, dan papan tulis. Meskipun sarana tersebut telah mendukung proses belajar, mahasiswa menilai pengembangan media pembelajaran yang lebih interaktif dapat meningkatkan antusiasme santri sekaligus membuat proses belajar menjadi lebih efektif.
Penanggung jawab Rumah Tahfidz Non Asrama, Bapak Subhan, menyambut positif kehadiran mahasiswa KKN. Menurutnya, tambahan tenaga pendamping sangat membantu proses pembinaan membaca Al-Qur'an dan hafalan santri yang selama ini menjadi program utama Rumah Tahfidz.
Berdasarkan temuan di lapangan, mahasiswa menyusun sejumlah program prioritas yang meliputi pendampingan membaca Al-Qur'an sesuai tingkat kemampuan santri, penguatan literasi Al-Qur'an melalui metode pembelajaran yang lebih interaktif, serta pembinaan karakter Islami dengan menanamkan kedisiplinan dan semangat belajar sejak dini.
Kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti pengelola Rumah Tahfidz, yayasan, tokoh agama, pemerintah desa, hingga masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan program selama masa KKN.
Melalui observasi yang dilakukan secara menyeluruh, mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Lumajang berharap setiap program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan santri. Pendekatan berbasis kebutuhan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur'an, memperkuat budaya belajar yang disiplin, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan keagamaan di Desa Bagusari.
Jurnalis Fachita Astya Anggraeni